Kampung Tugu
Indonesia /
Jawa Barat /
Bekasi /
World
/ Indonesia
/ Jawa Barat
/ Bekasi
historic district
Add category
Salah satu kampung tua di wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang ada sejak abad ke-5. Ada beberapa pendapat mengenai asal mula nama Tugu. Pertama, beberapa orang mengatakan bahwa nama Tugu diambil dari tugu sebagai tanda batas tempat atau wilayah yang waktu itu banyak terdapat di daerah ini. Kedua ada pula yang berpendapat bahwa Tugu diambil dari kata "Por - tugu - ese" (Portugis). Sedang pendapat ketiga lebih mendekati pada latar belakang sejarah, yakni nama Tugu ada kaitannya dengan ditemukannya sebuah prasasti yang ditemukan di daerah ini. Walaupun nama Tugu diabadikan untuk menyebut nama kelurahan, tetapi dulu digunakan untuk menyebutkan nama tempat seperti Kampung Tugu Batu Tumbuh, Kampung Tugu Rengas, Kampung Tugu Tipar, Kampung Tugu Semper, dan Kampung Tugu Kristen. Masing-masing nama kampung tersebut mempunyai kisah sendiri.
Menurut cerita, nama Kampung Tugu Batu Tumbuh berawal dari seorang Belanda yang masuk ke hutan dengan dikawal oleh pembantunya seorang bumiputra. Orang Belanda itu masuk sendiri kehutan sedang pembantunya disuruh menunggu diluar. Ketika hari sudah senja dan orang Belanda itu belum kembali, pembantunya menyusul masuk ke hutan. Ternyata orang Belanda itu sudah mati di bawah pohon Laban (lontar) dan di bawahnya ditemukan sebuah batu muncul ke permukaan tanah. Ternyata setelah dibongkar dan diteliti, batu tersebut adalah sebuah prasasti peninggalan Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara dan kemudian disimpan di Museum Nasional (Museum Gajah). Namun ketika prasasti tersebut dipindahkan, di bawah pohon Saban muncul dua buah batu kecil lonjong. Oleh sebab itu kampungnya dinamakan Kampung Tugu Batu Tumbuh.
Adapun nama Kampung Tugu Rengas karena dulu di sana banyak pohon rengas. Sedangkan nama Kampung Tugu Tipar berasal dari kata nipar yang artinya "menanam padi kebun". Dahulu penduduk di sana sering memanfaatkan lahan yang kosong untuk ditanami padi. Nama Kampung Tugu Semper berasal dari kata emper. Mungkin karena letak tempat itu berada di emperan atau paling depan. Dan nama Kampung Tugu Kristen karena penduduknya yang tinggal dekat gereja tua yang kebanyakan menganut agama Kristen.
Selain nama kampung yang memakai kata "Tugu" terdapat pula nama kampung lainnya, seperti Kampung Rawa Gatel, Kampung Tegal Kunir, Kampung Mangga, dan Kampung Tanah Merah. Rawa Gatel berasal dari dua suku kata, yaitu rawa dan gatel. Rawa-rawa yang ada pada waktu itu umumnya ditumbuhi oleh tanaman ganggeng dan patil lele. Jika ada orang yang turun ke rawa itu, maka badannya terasa gatal-gatal karena kedua tumbuhan air tersebut. Begitu pula nama Kampung Tegal Kunir, konon kabarnya disana tinggal seorang Cina kaya yang bernama Babah Eng Lim. Ia mempunyai tempat penggilingan padi yang ditarik oleh kerbau. Sisa-sisa padi yang digiling (menir) berwarna kuning seperti kunir sehingga dikenal dengan sebutan "Tegal Kunir". Nama Kampung Mangga karena dulu di tempat ini banyak pohon mangganya
DI mana sebenarnya Kampung Tugu? Tempat lahirnya Keroncong Tugu itu terletak di sebelah timur Kota atau sebelah tenggara Tanjung Priok. Dari Cakung, lebih mudah menemukan lokasi itu, susuri saja jalan Cakung-Cilincing. Di kawasan berikat nusantara Cakung, di tengah kepungan pabrik dan ratusan kontainer, di sanalah letak Kampung Tugu. Kini, jalan yang melintas di depannya bernama Jalan Raya Tugu.
MENURUT warga sekitar, Kampung Tugu dulu bisa ditempuh melalui air. Orang biasa naik dari Pasar Ikan lalu menyusur pantai Cilincing, masuk ke Marunda dan belok melalui Kali Cakung hingga sampai ke Kampung Tugu. Sekarang, bingung arah rasanya jika harus melalui jalan air itu, apalagi sampan-sampan yang memasuki Kali Cakung tak berfungsi lagi sejak tahun 1942, sejak kedatangan Jepang.
Mengapa disebut Kampung Tugu? Menurut kabar, pada tahun 1878 di suatu tempat di Tugu, pernah ditemukan sebuah batu berukir yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Tugu. "Waktu itu, orang yang menemukannya merasa heran karena dalam batu seperti ada ceritanya, dari bahasa Sanskerta yang katanya ditulis oleh orang Hindu pada abad keempat. Karena itu, tempat ini akhirnya dinamakan Kampung Tugu," jelas Fernando Quiko (57), seorang warga Kampung Tugu keturunan Portugis generasi ke sembilan.
M Isa, pemandu wisata sejarah dari Museum Sejarah Jakarta, yang juga alumnus Jurusan Sejarah Universitas Indonesia, mengatakan, Prasasti Tugu sebenarnya ditemukan di Sukapura, tepatnya di sebelah timur Pelabuhan Tanjung Priok, di selatan perkampungan orang keturunan Portugis Tugu.
Dalam Buku Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta terbitan Yayasan Cupta Loka Laraka 1997 karangan Adolf Heuken SJ, disebutkan bahwa Prasasti Tugu merupakan peninggalan arkeologis paling tua, yang membuktikan pengaruh Hindu di Jawa Barat. Batu-batu besar serupa, yang bertuliskan nama Raja Purnawarman, ditemukan di tempat-tempat lain di Jawa Barat. Raja ini memerintah sebuah kerajaan yang disebut Taruma(negara).
"Nama itu mungkin berkaitan dengan nama Ci-tarum, yang kini melalui Bendungan Jatiluhur dan bermuara di Laut Jawa, 20 kilometer timur laut dari Tugu," tulis Heuken.
Di Kampung Tugu, saat ini masih tersisa orang keturunan Portugis. Beberapa rumah bergaya Betawi dengan sentuhan Portugis masih berdiri di sana, termasuk rumah yang pada tahun 1661 digunakan sebagai tempat berkumpul untuk berlatih Keroncong Tugu.
Fernando mengatakan, tahun 1661 awal mula kedatangan orang Portugis di Jakarta. "Dulu, semua orang di sini berbahasa Portugis dalam waktu cukup lama, diselingi bahasa Melayu kasar. Lalu, ada Pendeta Leideckers yang berdiam di Tugu tahun 1978. Dialah yang memperkenalkan bahasa Indonesia," katanya.
GEREJA Tugu di Kampung Tugu saat ini masih berdiri tegak dengan bentuk bangunannya yang asli meski telah beberapa kali direnovasi. Sepintas, bentuk bangunannya memang sangat sederhana. Dinding gereja dicat putih, dengan jendela dan pintu berwarna coklat. Di depan gereja terdapat kuburan, konon, pendiri Gereja Tugu, Melchior Leydecker, dimakamkan di situ.
Gereja yang dibangun tahun 1678 tersebut awalnya terbuat dari kayu, namun lama kelamaan rusak dan lapuk. Tahun 1738, gereja diperbaiki dan disebut sebagai Gereja Tugu yang kedua. Lonceng yang dibangun di sisi gereja makin melengkapi penampilan gereja kedua ini.
Menurut Fernando, yang merujuk cerita beberapa kakek buyutnya, pembangunan Gereja Tugu yang ketiga dimulai pada tahun 1744. "Tahun 1940 ada pemberontakan China dan gereja dirusak. Waktu itu, Tugu tidak mempunyai gereja lagi. Saat itu, ada seorang Belanda bernama Justinus Vinck yang menjadi tuan tanah di Cilincing. Di zamannyalah dibangun gereja yang ketiga," paparnya.
Gereja ketiga dibangun tidak persis di lokasi semula, namun beberapa ratus meter dari gereja yang dirusak. Menurut beberapa warga, lonceng gereja yang ada saat ini adalah sama dengan lonceng yang dibuat bersama gereja kedua. Namun, menurut beberapa pemandu wisata sejarah dari Museum Sejarah, lonceng besar di sisi gereja saat ini bukan yang asli.
"Lonceng ini sebenarnya tiruan, yang asli disimpan," kata Ujo, seorang pemandu.
Bagi penikmat wisata sejarah, Gereja Tugu masih berdiri kokoh dan setiap hari Minggu dipenuhi nyanyian dari para jemaat warga sekitar.
Kampung Tugu menyimpan sejuta kenangan sejarah. Bahkan, di sana sempat dikenal juga beberapa makanan khas, seperti gado-gado tugu, dendeng tugu, dan pindang serani tugu. Yang paling kerap dibicarakan orang mengenai Kampung tugu, barangkali, adalah Keroncong Tugu (ejaan saat awal berdiri Keroncong Toegoe). Keroncong sendiri sebenarnya adalah alat bermain musik semacam gitar berdawai.
Fernando kembali bertutur. Menurut cerita yang dia dengar, keroncong yang pertama didatangkan ke Tugu dibuat di Portugis dengan bahan dari kayu Ahorn. Bentuknya mirip gitar, namun lebih kecil. Ada sebuah lagu sederhana yang kerap dimainkan saat terang bulan dan diberi nama Lagu-Kroncong, dalam bahasa Portugis dinamakan Moresco.
Ada lima jenis Keroncong Tugu, baik yang berdawai lima atau enam. Lambat laun, nama Keroncong Tugu dikaitkan dengan sebuah grup menyanyi. Tempat orang-orang Tugu zaman dulu bermain, kini dijadikan tempat untuk menyimpan jenis-jenis alat musik keroncong. Tempat itu ditinggali oleh seseorang yang juga masih keturunan Portugis
Menurut cerita, nama Kampung Tugu Batu Tumbuh berawal dari seorang Belanda yang masuk ke hutan dengan dikawal oleh pembantunya seorang bumiputra. Orang Belanda itu masuk sendiri kehutan sedang pembantunya disuruh menunggu diluar. Ketika hari sudah senja dan orang Belanda itu belum kembali, pembantunya menyusul masuk ke hutan. Ternyata orang Belanda itu sudah mati di bawah pohon Laban (lontar) dan di bawahnya ditemukan sebuah batu muncul ke permukaan tanah. Ternyata setelah dibongkar dan diteliti, batu tersebut adalah sebuah prasasti peninggalan Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara dan kemudian disimpan di Museum Nasional (Museum Gajah). Namun ketika prasasti tersebut dipindahkan, di bawah pohon Saban muncul dua buah batu kecil lonjong. Oleh sebab itu kampungnya dinamakan Kampung Tugu Batu Tumbuh.
Adapun nama Kampung Tugu Rengas karena dulu di sana banyak pohon rengas. Sedangkan nama Kampung Tugu Tipar berasal dari kata nipar yang artinya "menanam padi kebun". Dahulu penduduk di sana sering memanfaatkan lahan yang kosong untuk ditanami padi. Nama Kampung Tugu Semper berasal dari kata emper. Mungkin karena letak tempat itu berada di emperan atau paling depan. Dan nama Kampung Tugu Kristen karena penduduknya yang tinggal dekat gereja tua yang kebanyakan menganut agama Kristen.
Selain nama kampung yang memakai kata "Tugu" terdapat pula nama kampung lainnya, seperti Kampung Rawa Gatel, Kampung Tegal Kunir, Kampung Mangga, dan Kampung Tanah Merah. Rawa Gatel berasal dari dua suku kata, yaitu rawa dan gatel. Rawa-rawa yang ada pada waktu itu umumnya ditumbuhi oleh tanaman ganggeng dan patil lele. Jika ada orang yang turun ke rawa itu, maka badannya terasa gatal-gatal karena kedua tumbuhan air tersebut. Begitu pula nama Kampung Tegal Kunir, konon kabarnya disana tinggal seorang Cina kaya yang bernama Babah Eng Lim. Ia mempunyai tempat penggilingan padi yang ditarik oleh kerbau. Sisa-sisa padi yang digiling (menir) berwarna kuning seperti kunir sehingga dikenal dengan sebutan "Tegal Kunir". Nama Kampung Mangga karena dulu di tempat ini banyak pohon mangganya
DI mana sebenarnya Kampung Tugu? Tempat lahirnya Keroncong Tugu itu terletak di sebelah timur Kota atau sebelah tenggara Tanjung Priok. Dari Cakung, lebih mudah menemukan lokasi itu, susuri saja jalan Cakung-Cilincing. Di kawasan berikat nusantara Cakung, di tengah kepungan pabrik dan ratusan kontainer, di sanalah letak Kampung Tugu. Kini, jalan yang melintas di depannya bernama Jalan Raya Tugu.
MENURUT warga sekitar, Kampung Tugu dulu bisa ditempuh melalui air. Orang biasa naik dari Pasar Ikan lalu menyusur pantai Cilincing, masuk ke Marunda dan belok melalui Kali Cakung hingga sampai ke Kampung Tugu. Sekarang, bingung arah rasanya jika harus melalui jalan air itu, apalagi sampan-sampan yang memasuki Kali Cakung tak berfungsi lagi sejak tahun 1942, sejak kedatangan Jepang.
Mengapa disebut Kampung Tugu? Menurut kabar, pada tahun 1878 di suatu tempat di Tugu, pernah ditemukan sebuah batu berukir yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Tugu. "Waktu itu, orang yang menemukannya merasa heran karena dalam batu seperti ada ceritanya, dari bahasa Sanskerta yang katanya ditulis oleh orang Hindu pada abad keempat. Karena itu, tempat ini akhirnya dinamakan Kampung Tugu," jelas Fernando Quiko (57), seorang warga Kampung Tugu keturunan Portugis generasi ke sembilan.
M Isa, pemandu wisata sejarah dari Museum Sejarah Jakarta, yang juga alumnus Jurusan Sejarah Universitas Indonesia, mengatakan, Prasasti Tugu sebenarnya ditemukan di Sukapura, tepatnya di sebelah timur Pelabuhan Tanjung Priok, di selatan perkampungan orang keturunan Portugis Tugu.
Dalam Buku Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta terbitan Yayasan Cupta Loka Laraka 1997 karangan Adolf Heuken SJ, disebutkan bahwa Prasasti Tugu merupakan peninggalan arkeologis paling tua, yang membuktikan pengaruh Hindu di Jawa Barat. Batu-batu besar serupa, yang bertuliskan nama Raja Purnawarman, ditemukan di tempat-tempat lain di Jawa Barat. Raja ini memerintah sebuah kerajaan yang disebut Taruma(negara).
"Nama itu mungkin berkaitan dengan nama Ci-tarum, yang kini melalui Bendungan Jatiluhur dan bermuara di Laut Jawa, 20 kilometer timur laut dari Tugu," tulis Heuken.
Di Kampung Tugu, saat ini masih tersisa orang keturunan Portugis. Beberapa rumah bergaya Betawi dengan sentuhan Portugis masih berdiri di sana, termasuk rumah yang pada tahun 1661 digunakan sebagai tempat berkumpul untuk berlatih Keroncong Tugu.
Fernando mengatakan, tahun 1661 awal mula kedatangan orang Portugis di Jakarta. "Dulu, semua orang di sini berbahasa Portugis dalam waktu cukup lama, diselingi bahasa Melayu kasar. Lalu, ada Pendeta Leideckers yang berdiam di Tugu tahun 1978. Dialah yang memperkenalkan bahasa Indonesia," katanya.
GEREJA Tugu di Kampung Tugu saat ini masih berdiri tegak dengan bentuk bangunannya yang asli meski telah beberapa kali direnovasi. Sepintas, bentuk bangunannya memang sangat sederhana. Dinding gereja dicat putih, dengan jendela dan pintu berwarna coklat. Di depan gereja terdapat kuburan, konon, pendiri Gereja Tugu, Melchior Leydecker, dimakamkan di situ.
Gereja yang dibangun tahun 1678 tersebut awalnya terbuat dari kayu, namun lama kelamaan rusak dan lapuk. Tahun 1738, gereja diperbaiki dan disebut sebagai Gereja Tugu yang kedua. Lonceng yang dibangun di sisi gereja makin melengkapi penampilan gereja kedua ini.
Menurut Fernando, yang merujuk cerita beberapa kakek buyutnya, pembangunan Gereja Tugu yang ketiga dimulai pada tahun 1744. "Tahun 1940 ada pemberontakan China dan gereja dirusak. Waktu itu, Tugu tidak mempunyai gereja lagi. Saat itu, ada seorang Belanda bernama Justinus Vinck yang menjadi tuan tanah di Cilincing. Di zamannyalah dibangun gereja yang ketiga," paparnya.
Gereja ketiga dibangun tidak persis di lokasi semula, namun beberapa ratus meter dari gereja yang dirusak. Menurut beberapa warga, lonceng gereja yang ada saat ini adalah sama dengan lonceng yang dibuat bersama gereja kedua. Namun, menurut beberapa pemandu wisata sejarah dari Museum Sejarah, lonceng besar di sisi gereja saat ini bukan yang asli.
"Lonceng ini sebenarnya tiruan, yang asli disimpan," kata Ujo, seorang pemandu.
Bagi penikmat wisata sejarah, Gereja Tugu masih berdiri kokoh dan setiap hari Minggu dipenuhi nyanyian dari para jemaat warga sekitar.
Kampung Tugu menyimpan sejuta kenangan sejarah. Bahkan, di sana sempat dikenal juga beberapa makanan khas, seperti gado-gado tugu, dendeng tugu, dan pindang serani tugu. Yang paling kerap dibicarakan orang mengenai Kampung tugu, barangkali, adalah Keroncong Tugu (ejaan saat awal berdiri Keroncong Toegoe). Keroncong sendiri sebenarnya adalah alat bermain musik semacam gitar berdawai.
Fernando kembali bertutur. Menurut cerita yang dia dengar, keroncong yang pertama didatangkan ke Tugu dibuat di Portugis dengan bahan dari kayu Ahorn. Bentuknya mirip gitar, namun lebih kecil. Ada sebuah lagu sederhana yang kerap dimainkan saat terang bulan dan diberi nama Lagu-Kroncong, dalam bahasa Portugis dinamakan Moresco.
Ada lima jenis Keroncong Tugu, baik yang berdawai lima atau enam. Lambat laun, nama Keroncong Tugu dikaitkan dengan sebuah grup menyanyi. Tempat orang-orang Tugu zaman dulu bermain, kini dijadikan tempat untuk menyimpan jenis-jenis alat musik keroncong. Tempat itu ditinggali oleh seseorang yang juga masih keturunan Portugis
Wikipedia article: http://id.wikipedia.org/wiki/Kampung_Tugu
Nearby cities:
Coordinates: 6°7'33"S 106°55'19"E
- Benteng Chinatown 33 km
- Kawasan Banten Lama 87 km
- Kedaton Keagungan 202 km
- WILAYAH KEKUASAAN KI AGENG MANGIR WONOBOYO dahulu kala 410 km
- Banyusumurup 432 km
- Pajimatan 432 km
- Redcliffe 5412 km
- South Street Historic Area 7601 km
- Semper Barat 0.6 km
- Tugu Utara 1.1 km
- Tugu Selatan 1.6 km
- Semper Timur 1.6 km
- Kawasan Berikat Nusantara Cakung 2.1 km
- Sukapura 2.5 km
- Cilincing 2.6 km
- Pegangsaan Dua 3.9 km
- Jakarta Bay 16 km
- Jakarta 16 km