Tornagodang (Dolok Surungan Nabolon Desa Huta Godang Luat Sibuntuon Huta Pinuka Ni Op.Parsaor Nabirong)

Indonesia / Sumatera Utara / Bandar / Dolok Surungan Nabolon Desa Huta Godang Luat Sibuntuon Huta Pinuka Ni Op.Parsaor Nabirong
 Pasang sebuah foto

Desa tornagodang
Kota terdekat:
Koordinat:   2°18'8"N   99°18'35"E

Komentar-komentar

  • Letak Geografis Secara administratif Desa Tornagodang merupakan salah satu Desa di Kecamatan Habinsaran, yang pada tahun 2008 merupakan pemekaran dari Desa Parsoburan Barat. Desa Tornagodang terletak di sebelah Barat Parsoburan, Ibukota Kecamatan Habinsaran yang dibatasi oleh sungai Aek Gorat, dan hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki dan sepeda motor. Jarak antara Parsoburan dengan Tornagodang kira-kira 6 km. Namun bila masuk dari arah Barat, Desa Tornagodang dapat dicapai dengan kendaraan roda 4 (empat), melalui PT. Perkebunan Nusantara IV dengan jarak kira-kira 5 km. Jarak Dusun Tornagodang dari Ibu Kota Kabupaten/Balige adalah kira-kira 35 km. Pada Tahun 1986, Dusun Tornagodang mendapat aliran Listrik PLN. Penduduk Desa Tornagodang dihuni oleh sekitar 500 kk atau kira-kira 1500 jiwa, yang secara garis keturunan masih ada pertalian hubungan persaudaraan antara yang satu dengan yang lain. Masyarakat Dusun Tornagodang didominasi oleh marga Pandjaitan, Sitorus, Silaen, Pardosi, Sibarani dan Pasaribu. Namun sejak akhir tahun 80’an, jumlah marga tersebut semakin bertambah dengan hadirnya Perkebunan Teh Sibosur yang secara administratif masih masuk dalam wilayah Desa Tornagodang. Sosial Ekonomi a.Sarana Pendidikan Saat ini sarana pendidikan yang ada di Desa Tornagodang terada 3 (tiga) Sekolah Dasar (SD) yaitu 1 (satu) SD Negeri dan 2 (dua) SD Inpres. b.Sarana Peribadatan Sarana peribadatan yang tersedia sat ini terdiri dari 2 (dua) Gereja HKBP, 1 (satu) Gereja Rom Katolik, 1 (satu) Gereja Metodis Indonesia, 1 (satu) Gereja Betel, 1 (satu) Gereja Oikumene dan 1 Satu) Mesjid. c.Mata Pencaharian Mata pencaharian masyarakat desa Tornagodang pada umumnya bertani sawah, ladang, perkebunan teh/kopi dan tanaman palawija, serta ternak babi dan ayam. Selain itu, pada tahun 70’an sampai dengan tahun 80’an, masyarakat desa Tornagodang terkenal dengan ternak ikan namun akhir-akhir ini kegiatan ternak ikan mas tidak ada lagi menyusul berkurangnya debit sumber air Tali Air Sumber Sitona secara drastis. d.Lahan pertanian Sebelum tahun 60’an, tingkat kesejahteraan masyarakat dusun Tornagodang sangat memprihatinkan, karena pada waktu itu lahan pertanian hanya mengandalkan saba rura yang tingkat kesuburannya sangat rendah. Sebagaimana diketahui lahan persawahan saba rura tanahnya didominasi oleh pasir dan batu kerikil, sehingga produktifitasnya sangat rendah. Masyarakat telah mengolah lahan dengan usaha yang maksimal, namun hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan usaha yang telah dilakukan/hasilnya tidak maksimal. Dengan kondisi lahan pertanian sebagaimana disebut di atas, pada waktu itu banyak penduduk desa Tornagodang yang hijrah ke Sumatera Timur (Manombang) untuk merobah nasib dan kehidupan yang lebih baik. Tali Air Sumber Sitona Sejak pertengahan awal tahun 40’an, telah ada gagasan dari para penatua untuk membangun tali air (bondar pampean) dari hulu Sungai Aek Agong di daerah Sibosur (yang sekarang menjadi perkebunan teh), dan rencana tersebut disambut baik oleh masyarakat. Pada tahun 1955, masyarakat desa Tornagodang bergotong royong untuk memwujudkan impian tersebut. Namun karena sulitnya medan dan kurang memadainya peralatan, rencana tersebut tidak dapat berjalan dan berhenti pada tahun 1957. Karena niat untuk merubah nasib begitu tinggi diantara masyarakat Desa Tornagodang, pada tahun 1958 kegiatan untuk mewujudkan tali air tersebut dilanjutkan kembali. Dengan semangat dan tekat yang kuat untuk memperoleh penghidupan yang lenih baik, serta rasa kebersamaan dan gotong royong yang sangat tinggi maka pada tahun 1960 masyarakat Tornagodang berhasil membangun Tali Air/Irigasi Sumber Sitona. Dengan masuknya Tali Air Sumber Sitona di Dusun Tornagodang, telah membawat perubahan yang luar biasa untuk peningkatan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat Tornagodang secara drastis, karena tali air Sumber Sitona menjadi sumber air bersih untuk kebutuhan hidup sehari-hari, bertambahnya pendapatan dengan melimpahnya hasil pertanian, perikanan dan peternakan. Kehadiran tali air Sumber Sitona membuka babak baru bagi kehidupan masyarakat desa Tornagodang, karena arus urbanisasi atau”manombang” menjadi terhenti. Masa depan yang cerah telah terlihat dengan melimpahnya air yang mengalir dari Sumber Sitona. Masyarakat dengan sumngguh-sungguh bergotong royong membuka sawah-sawah baru. Sampai dengan awal tahun 80,an jumlah luas persawahan di Tornagodang mencapai 450 (empat ratus lima puluh) ha, dengan pola tanam 1 x dalam satu tahun. Saat itu, Tornagodang merupakan sentra penghasil beras di Kecamatan Habinsaran. Melimpahnya hasil pertanian, perikanan dan pertanian, masyarakat Tornagodang dapat menyekolahnya anak-anaknya sampai ke Tingkat Perguruanggi di Medan dan Pulau Jawa. Hilangnya Kejayaan Tali Air Sumber Sitona
  • Hilangnya Kejayaan Tali Air Sumber Sitona Secara berlahan-lahan namun pasti, debit air Sumber Sitona semakin hari semakin berkurang sebagai akibat adanya kegiatan Hutan Tanaman Industri di Daerah Aliran Sungai (DAS) Aek Agong. Aek Agong merupakan sumber air untuk tali air Sumber Sitona, yang saat ini kondisi debit airnya sangat memprihatinkan, karena debitnya menurun secara drastis (penurunan hampir 80% dari debit semula). Dengan berkurangnya debit air Aek Agong dengan sendirinya debit tali air Sumber Sitona berkurang juga secara drastis, bahkan tinggal sekitar 40-50% dari debit semula. Dengan demikian, secara berlahan luas areal persawahan yang menjadi tumpuan hidup masyarakat desa Tornagodang semakin berkurang, dan saat ini tinggal sekitar 150 – 200 ha lahan persawahan yang produktif. Usul Mengembalikan Kejayaan Tali Air Sumber Sitona Tali air Sumber Sitona merupakan sarana dan asset yang sangat berharga yang tidak dapat dinilai secara material. Tali air sumber sitona diperoleh dengan pengorbanan yang sangat mahal olah para Oppung dan Orang Tua masyarakat Tornagodang. Masyarakat Desa Tornagodang sudah sepantasnya mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Pemerintah, karena telah berhasil mengentaskan kemiskinan pada saat itu. Untuk mengembalikan kejayaan Taloi Air Sumber Sitona dapat dilakukan dengan penambahan debit air, yaitu dengan mengalihkan Aek Sibabi. Aek Sibabi bermuara pada Aek Agong, namun tidak bisa langsung dialihkan ke bendungan Aek Agong tempat pengalihan air ke Sumber Sitona karena muaranya berada sekitar 400 meter di hilir bendungan. Penambahan debit air Sumber Sitona dengan mengalihkan Aek Sibabi, dapat dilakukan dengan menggunakan pipa yang mengikuti kontur tanah/lembah. Hal ini dimungkinkan karena Aek Sibabi lebih tinggi dari tali air Sumber Sitona, namun memerlukan biaya yang cukup besar yaitu sekitar Rp.450.000.000,- (empat ratus lima puluh juta rupiah, dengan perincian sebagai berikut : Pipa besi tebal 2 mm diameter 30 cm sepanjang 350 m - Pipia besi 350 m x Rp.100.000 Rp. 350.000.000,- - Bendungan dan penyangga pipa besi Rp. 50.000.000,- - Ongkos Kerja 500 orang x 60.000 Rp. 30.000.000,- - Transportasi pipa besi sampai lokasi Rp. 20.000.000,- Jumlah seluruhnya.......................... Rp. 450.000.000,- (Empat ratus lima puluh juta rupiah) Usulan anggaran tersebut masih perkiraan kasar, dan untuk mendapatkan biaya yang lebih rinci dan akurat masih perlu dilakukan survei dan pengukuran lokasi. Artinya biaya yang diajukan masih bisa berkurang atau sebaliknya. Manfaat yang diperoleh Dengan bertambahnya debit air Sumber Sitona, diharapkan lahan pertanian (seluas 200 – 300 ha) yang selama dibiarkan terlantar maka akan dimanfaatkan kembali untuk areal persawahan dan tempat pemeliharaan ikan. Selain itu, dengan memanfaatkan mekanisasi teknologi pertanian, dan dukungan penyuluh lapangan pertanian, maka pola tanam dapat diubah menjadi 2 kali dalam setahun. Dengan demikian, akan diperolah hasil yang maksimal dengan memanfaatkan lahan-lahan secara maksimal pula.
  • YANG PENTING JALAN ( INFRASTRUKTUR YANG BPERTAMA DI BENAHI KE JALAN TORNAGODANG DISANAN KITA AKAN MENEMUKAN SUMBER AIR YANG BAIK DAN BANYAK HASIL BUMI YANG BELUM BISA MENGHSILKAN DAN KAMI MOHON KEPADA pEKOT tOBASA AGAR MEMPERHATIKAN MASYARAKAT PEDESAAN
  • Horas Lae Pasaribu, di Surabaya do tahe hamu ?. Nunga tung leleng hita ndang pajumpang ate (sian tahun 1978 molo ndang sala). Informasi terakhir sian Tornagodang awal tahun 2011, jalan nunga denggan, sebagian besar sdh aspal. Mauliate ma di PEMDA Tobasa. (Salam dari kami sekeluarga, dotor panjaitan).
  • Horas amang Dotor! Lg bergumul do hutanta nuaeng dlm hal pengembalian tanah Sibosur. Tangianghon hamu ate!
  • Masalah Pergumulan Sibosur yang saya baca di beberapa Media . sebenarnya itu bisa teratasi dengan baik . Yang penting hamu angka Tulang ,Amang Boru .angka Ibotoniba .maradu sude tahe angka napinarsangapan na adong di Huta Tornagodang Tano na Uli . 1: Marsada Hamuna di sude angka panghilalan. Saroha . molo sude penduduk ni Tornagodang bersatu aha pe na naeng ro manegai huta i ndang boi marlakku i alana saroha do hamuna sude . Jadi sude do anak Pangaranto setuju molo marsada ni roha hamuna angka natua-tua nami na tinggal di huta alai on stung lupa hamuna martangiang Alana hita marencanahon Tuhanta do na pasauthon . unang holan di Kode Tuak marjuji .songon ima mewah ni Gareja di Tornagodang HKBP .Methodis .Khatolik ( RK ) kosong do bangku molo marminggu iba di si boha do hita laho manjalo pangurupion sian Tuhan tan na basa i. JADI HUULAHI MA MUSE MANDOK TU HAMU ANGKA NATU7A-TUA NAMI NA DI TORNAGODANG MOLO MARSADA HUMUNA NDANG ADONG NA BOI MANGGUGAI HAMUNA DISON ,SAROHA ,SAPANGHILALAAN.Adong sajak Bahas Indonesia : BERSATU KITA TEGUH BERCERAI KITA RUNTUH ; Horas mauliate sian ahu : St.P.Pasaribu / br Tambunan . domisili . Surabaya kotaPahlawan. asal dari Sombahuta /Tornagodang .Napuran tanotano rangging masiranggongan . Badantapadaodao Tondinta i ma masigonggoman .Baravo tornagodang
  • Horas ma di ht saluhutna manang didia pe hita maringanan. Napinarsangapan sude generasi ni Dusun Tornagodang, tarlumobi na adong di pangarantoan. Amang/inang taparrohahon hutattai ate, alana sian taon tu taon sngt memprihatinkan do kemajuan ni tano hagodangantai. Molo tabandingkon do nuaeng tu luat na adong di habinsaran, apa lg di bidang ekonomi sngt t'puruk. Hape molo tabereng sian segi letak geografis, SDA & SDM nga sepantasna gabe luat na maju i. Tu hamu amang/inang mngkin nga adong diantara hamu naung punya modal, hurasa nga boi disi dibangun sada perusahaan yg b'gerak di bidang pertanian. Molo tabereng sian jumlah ni pemuda na pengangguran, & tak buta huruf sngt cocok do dibaen disi sada perusahaan. (imajo tu si) Molo masalah sibosur, songon hami (lahir 80an) dang diboto hami be manang songon dia perjanjian2 antara kedua belah pihak (masyarakat-perusahaan). Dihamu na mamboto paboa hamu tu hami ate, manang songon dia do isi ni kesepakatan di tano sibosur i. Jala bantu hamu amang/inang akka penggagas na mengungkit kepentingan rakyat na adong sonari disi. Mungkin molo holan natua2 ni huta i dang sanggup, alani keterbatasan ekonomi, pendidikan dll. Ala ni i, ikkon generasi na dipangarantoan on nama marsada ni roha menyelesaikan problem2 i. Mauliate... Horas! Horas! Horas!
  • Lihat semua komentar
Artikel ini terakhir diubah 18 tahun yang lalu