Masjid Peneleh (Surabaya)

Indonesia / Jawa Timur / Surabaya

. Air Zam-zam Ala Masjid Peneleh Surabaya www.AsikDeh.com

Akan berkah bila wudhu dengan air itu. Bahkan tidak sedikit yang membawanya pulang.
Matahari terasa menyengat, suhu di Kota Surabaya kala itu mencapai 32 derajat celcius, salat dzuhur berjamaah baru saja usai dilaksanakan. Sambil berteduh, para jamaah duduk-duduk santai, ada yang tidur-tiduran, bercengkrama bahkan tidak sedikit yang membaca ayat-ayat suci Al-Quran.

Pemandangan seperti itu kerap terjadi setiap harinya di Masjid Jami Peneleh, di Jalan Peneleh 5 No 41, Surabaya, Jawa Timur, terlebih selama bulan suci ramadan.

Selain karena kemegahannya, masjid ini juga menyimpan banyak cerita. Lokasinya yang berdekatan dengan rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, salah satu pahlawan kemerdekaan RI, juga tercatat sebagai masjid tertua di Kota Surabaya yang berdiri pada 1421, dibangun beberapa bulan sebelum dibangun Masjid Ampel.

Namun sayang, sekarang masjid ini nyaris luput dari perhatian orang banyak, tapi jika bertandang ke masjid ini dan menanyai setiap orang di kawasan itu, ceritanya begitu manarik, beragam, dan tentu banyak versi. Tidak ketinggalan aroma mistik. Maklum carita lisan yang kerap dibumbui imajinasi dari tiap-tiap generasi.

Bahkan, tidak sedikit mereka yang datang, selain salat dan berziarah, juga berburu air sumur untuk wudhu dan juga diminum. Konon menurut cerita, sumur itu diyakini sebagai petilasan (makam) Sunan Ampel atau Raden Rahmad. Sehingga akan berkah bila wudhu dengan air itu. Bahkan tidak sedikit yang membawanya pulang.

"Banyak cerita dari sejarah msajid ini, tetapi yang saya perhatikan bila datang ke sini banyak yang salat dan pulangnya membawa air yang diambil dari sumur masjid itu, katanya sumur tua itu berkhasiat," ujar Imam Sahuri salah seorang pendatang yang mondok di kawasan itu.

Banyak yang meyakini, kualitas air sumur Masjid Peneleh sepadan dengan sumur di Masjid Ampel dan air zam-zam di halaman Kota Suci Mekah.

Keunikan lain yang tidak bisa disangkal, sampai saat ini sumur itu masih mengeluarkan air meski di musim kemarau panjang. Namun sayang, letak sumur mukzizat ini tersembuyi di bawah tangga dan bedug, sehingga sulit dilihat. Hanya saja air itu mengalir ke tempat wudlu.

Jika melihat kultur arsitekturnya, masjdi tua yang masih berdiri kokoh itu, termasuk masjid aliran neuw imperial. Pernah direnovasi pada tahun 1800. Masjid Peneleh ini, serupa dengan karakter bangunan Gedung Negera Grahadi di Jl Gubernur Suryo yang dibangun 1777.

Tiang penyangganya dari kayu jati termasuk rangka langit langitnya. Ada 10 tiang kayu jati raksasa menjulang tinggi dan saling menyambung di bagian langit-langit. Dipadu dengan kaca ukir yang cantik dan unik di setiap jendela masjid, menambah keindahan bangunan masjid.

Sejarah Masjid Peneleh

Sekitar abad ke-14, Raden Rahmad atau yang dikenal dengan nama Sunan Ampel menetap ke Kampung Peneleh, sebuah daerah di kawasan tengah kota Surabaya. Disana, ia mendirikan sebuah surau kecil di tengah kampung.

Disana, Sunan Ampel menyiarkan Islam kepada warga. Sama seperti yang dilakukan sebelum tinggal di Peneleh. Saat tiba di Surabaya, Putra Putri Campa (Kamboja) ini berada di Kawasan Kembang Kuning dan membangun surau kecil yang kini berdiri Masjid Rahmat.

Sedikit menilik sejarah, di kawasan Kembang Kuning, Sunan Ampel menikah dengan anak tetua kampung bernama Nyi Karimah. Pada masa kerajaan Majapahit, sang sunan memiliki hubungan baik dengan Raja Majapahit kala itu.

Bahkan, berkat jasa-jasanya, Sunan Ampel diberi hadiah oleh Raja Majapahit sebidang tanah perdikan di kawasan Ampel Denta. Nah, sebelum berangkat ke Ampel Denta itu, Sunan Ampel menyempatkan diri syiar di Kampung Peneleh.

“Sunan Ampel membangun sebuah surau yang kini berubah menjadi masjid. Sejak dulu, warga menamainya dengan Masjid Jami’ di Peneleh,” ujar Ketua Takmir Masjid, Muhammad Sofyan.

Keunikan masjid ini, bentuknya seperti kapal terbalik. Saat ini, masjid berdiri di atas lahan seluas 950 meter persegi. Sejak abad ke-18, Surau tersebut berubah menjadi masjid. Kemudian pada 1986, masjid direnovasi namun tidak merubah bentuk aslinya.

“Tidak ada perubahan di dalamnya. Kami hanya menambah serambi dan pengecatan saja. Mulai dari tiang, motif jendela, atap, dan sebagainya masih asli seperti semula,” tukasnya.

Mayoritas arsitekturnya berbahan kayu Jati. Hingga kini, belum ada yang tahu siapa arsitektur masjid tersebut. Namun jika dirunut, susunan bangunan yang ada di masjid ini ada tidak jauh berbeda dengan arsitektur Gedung Negara Grahadi di Jalan Gubernur Suryo.

Ada juga 10 tiang penyangga atap terbuat dari kayu Jati pula. Sofyan mengatakan, tiang-tiang utama itu adalah Soko Guru Masjid. Sedangkan, jarak atap dengan lantai masjid sepanjang 9 meter.

“Tingginya atap dan serta permainan kisi-kisi itulah menjadikan masjid ini terasa sejuk meski cuaca Surabaya terasa panas,” ucap dia.

Masjid ini juga dijadikan markas oleh Laskar Hizbullah melawan penjajah. Untuk mengelabui musuh, dari luar tampak seperti masjid yang berfungsi untuk beribadah dan sebagaimana mestinya.

Padahal, semua dokumen dan tempat diskusi Laskar Hizbullah berada di dalam masjid. Bahkan, jika ada musuh yang melintas, tidak mudah meringkusnya.

Tidak hanya itu saja, Sunan Ampel juga menggali sumur yang tepat berada di samping masjid. Tujuannya memudahkan jamaah mencari air wudhu. Konon, masyarakat sekitar sampai sekarang percaya bahwa sumur di dalam masjid itu ada hubungannya dengan sumur di Masjid Sunan Ampel yang berjarak sekitar lima kilometer.

“Bahkan ada yang percaya sumur di masjid Sunan Ampel itu berhubungan dengan Sumur Zam-zam di Mekkah. Sebab airnya seperti zam-zam,” papar pria kelahiran Peneleh tersebut.
Kini, menghindari pengkultusan dan merusak Aqidah, pengurus akhirnya menutup sumur tersebut. Menurut pengakuan sesepuh warga, di dalam sumur juga terdapat banyak senjata milik Laskar Hizbullah dan penjajah.

“Sehingga khawatir kalau tetap digunakan terjadi apa-apa karena sudah tercampur dengan senjata-senjata dan peralatan lainnya,” ucap dia.

Meski sebagai bangunan sarat sejarah, namun pengurus masjid tidak ada rencana untuk memasukkan sebagai cagar budaya. Alasannya, masjid ini dibangun dan direnovasi adalah dari swadaya masyarakat. Mereka khawatir jika dimasukkan cagar budaya maka pemerintah berkuasa penuh dan tidak mempersulit warga mengatur masjid.
Nearby cities:
Coordinates:   7°15'11"S   112°44'17"E
This article was last modified 10 years ago