BENTENG KEDUNG COWEK (Surabaya)
Indonesia /
Jawa Timur /
Surabaya
World
/ Indonesia
/ Jawa Timur
/ Surabaya
Dibalik tembok beton yang kokoh membisu terkubur kisah yang terlupakan sejarah. Tentang tanggung jawab, keperwiraan, dan pengorbanan. Lokasinya yang berada jauh dari hiruk-pikuk kota menjadikannya terpinggirkan juga, padahal di benteng pertahanan darat terdepan Surabaya inilah, prajurit-prajurit artileri pertahanan udara menguak perannya yang dalam sejarah bangsa.
Apabila anda pernah menonton film-film bertemakan pendaratan Sekutu di Normandia, misalnya film Saving Private Ryan, akan terdapat benteng-benteng pertahanan dari beton, dimana darinya tersembul moncong-moncong senjata pada lubang sempit horizontal yang menghadap pantai. Kurang lebih seperti itulah benteng-benteng di Kedung Cowek.
“Terdapat tiga benteng-benteng pertahanan seperti ini,” kata sang pemandu, “pertama di sini, kedua di Cilacap, dan ketiga di Singapura”.
1372052173261514758
MENEMBUS ZAMAN. Kostum-kostum yang dikenakan peserta secara tak langsung ikut merestorasi suasana pada waktu dulu. Bersantai di depan pengintai (kiri), meneruskan perjalanan untuk spot selanjutnya (tengah). Pemandangan ke arah laut, dimana jembatan Suramadu terlihat kecil di kejauhan (kanan). Dahulu, di laut inilah, mungkin dari sudut pandang ini juga, kapal-kapal AL Inggris terlihat mengancam di kejauhan. (Foto: doc pribadi)
Dalam sejarah, benteng Kedung Cowek seolah ditakdirkan hanya berfungsi untuk perang 10 Nopember 1945, sebagai penangkis kekuatan AL Inggris yang mencoba menyerang Surabaya dari arah laut. Menurut pemandu, sejak dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda, benteng-benteng yang berada jauh di sisi utara Surabaya itu tak sempat digunakan hingga tentara Jepang menduduki Indonesia. Letaknya yang strategis membuat Jepang pun memperkokoh dan menambah persenjataan berat di dalamnya. Sungguh beruntung Jepang kalah dalam PD 2 sehingga pertahanan yang kokoh dan penuh persenjataan berat tersebut jatuh ke tangan para pejuang Indonesia.
13720524301115111326
BENTENG KEDUA. Spot kedua dilihat dari arah darat (kiri), dan dari laut (kanan). Orang-orang harus menanjak tangga yang begitu sempit dan tinggi. Jalur kereta yang sudah ditumbuhi rumput, dahulu digunakan untuk operasional meriam besar (kanan). (Foto: doc pribadi)
Pada perang 10 Nopember di Surabaya, di Kedung Cowek pun pecah pertempuran yang sangat sengit. Pihak Inggris yang menganggap para pejuang tanah air tak lebih baik dari tentara reguler, dikejutkan oleh kualitas tembakan dari arah benteng-benteng Kedung Cowek yang berstandar PD 2. Mereka bahkan mengira serangan pertahanan itu dilakukan tentara Jepang yang melawan kesepakatan international, dan membombardir habis-habisan Kedung Cowek. Menurut sumber-sumber Inggris, Inggris sendiri bahkan tak pernah memperhitungkan Indonesia memiliki unit pasukan yang mampu mengoperasikan mesin perang PD 2 tersebut.
Siapakah orang-orang lokal yang mengejutkan dunia itu?
TANGGUNG JAWAB, KEHORMATAN, DAN PENGORBANAN
“Pasukan yang bertugas di benteng ini adalah para mantan pasukan Gyugun (suatu korps bentukan Jepang yang terdiri dari kelompok berpendidikan militer) yang diterjunkan dalam perang Pasifik. Mereka sudah merasakan babak-belur menghadapi Amerika di Morotai. Setelah kalah perang mereka pulang ke tanah air. Di surabaya mereka bertemu dengan Kolonel dr. Williater Hutagalung, yang memberitahu mereka situasi. Kita sedang berperang! Sekarang pilihan ada pada saudara-saudara, apakah memilih pulang atau tetap di sini mempertahankan kedaulatan negara. Apakah memilih kembali pada keluarga dan tenteram, atau tetap bertahan di sini dengan konsekuensi yang sudah jelas.”
Sekitar 400-500 orang ini sebagian besar dari Tapanuli, Deli dan Aceh. “Karena sebagian besar mereka dari Sumatra, maka pasukan yang mereka bentuk diberi nama Sriwijaya.”
1372052623791288946
RESTORASI. Menceritakan kisah sejarah dengan didukung kostum dan gambar. Tanpa usaha ini, benteng-benteng yang tidak nyaman ini tak terlihat nilai historisnya. (Foto: doc pribadi)
Mereka yang sudah mengecap PD 2, dimana pertahanan mereka dibombardir dan digempur pesawat dan kapal Amerika, akhirnya memutuskan tetap bertahan di Surabaya, menggabungkan diri mempertahankan jengkal tanah Surabaya. Pengetahuan mereka dalam mengoperasikan senjata berat seperti meriam digunakan untuk mendukung perjuangan Arek-Arek Suroboyo.
1372052799206401422
MASIH LIAR. Lokasi situs Benteng Kedung Cowek merupakan lokasi yang masih liar. Foto-foto ini menunjukkan suasana di sekitar benteng. Meskipun usaha-usaha pembersihan dilakukan secara berkala, namun tak pernah berhasil karena daya tumbuh semak yang sangat cepat. (Foto: doc pribadi)
Suatu keputusan yang sangat mengharukan. Karena sekitar 200 orang dari mereka akhirnya gugur dan tak sempat dievakuasi. Kiprah mereka yang mencengangkan telah ikut meramaikan deru perang 10 Nopember yang masyur dimana-mana. Tak hanya di Kedung Cowek, unit penangkis serangan udara Sriwijaya ini (pasukan ini dipecah dua kelompok, yang mampu mengoperasikan meriam ditempatkan di Kedung Cowek, sedangkan yang mampu menggunakan senjata penangkis serangan udara disebar menurut lokasi meriam penangkis serangan udara) telah merontokkan pesawat-pesawat tempur Inggris di beberapa titik di Surabaya.
Apabila anda pernah menonton film-film bertemakan pendaratan Sekutu di Normandia, misalnya film Saving Private Ryan, akan terdapat benteng-benteng pertahanan dari beton, dimana darinya tersembul moncong-moncong senjata pada lubang sempit horizontal yang menghadap pantai. Kurang lebih seperti itulah benteng-benteng di Kedung Cowek.
“Terdapat tiga benteng-benteng pertahanan seperti ini,” kata sang pemandu, “pertama di sini, kedua di Cilacap, dan ketiga di Singapura”.
1372052173261514758
MENEMBUS ZAMAN. Kostum-kostum yang dikenakan peserta secara tak langsung ikut merestorasi suasana pada waktu dulu. Bersantai di depan pengintai (kiri), meneruskan perjalanan untuk spot selanjutnya (tengah). Pemandangan ke arah laut, dimana jembatan Suramadu terlihat kecil di kejauhan (kanan). Dahulu, di laut inilah, mungkin dari sudut pandang ini juga, kapal-kapal AL Inggris terlihat mengancam di kejauhan. (Foto: doc pribadi)
Dalam sejarah, benteng Kedung Cowek seolah ditakdirkan hanya berfungsi untuk perang 10 Nopember 1945, sebagai penangkis kekuatan AL Inggris yang mencoba menyerang Surabaya dari arah laut. Menurut pemandu, sejak dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda, benteng-benteng yang berada jauh di sisi utara Surabaya itu tak sempat digunakan hingga tentara Jepang menduduki Indonesia. Letaknya yang strategis membuat Jepang pun memperkokoh dan menambah persenjataan berat di dalamnya. Sungguh beruntung Jepang kalah dalam PD 2 sehingga pertahanan yang kokoh dan penuh persenjataan berat tersebut jatuh ke tangan para pejuang Indonesia.
13720524301115111326
BENTENG KEDUA. Spot kedua dilihat dari arah darat (kiri), dan dari laut (kanan). Orang-orang harus menanjak tangga yang begitu sempit dan tinggi. Jalur kereta yang sudah ditumbuhi rumput, dahulu digunakan untuk operasional meriam besar (kanan). (Foto: doc pribadi)
Pada perang 10 Nopember di Surabaya, di Kedung Cowek pun pecah pertempuran yang sangat sengit. Pihak Inggris yang menganggap para pejuang tanah air tak lebih baik dari tentara reguler, dikejutkan oleh kualitas tembakan dari arah benteng-benteng Kedung Cowek yang berstandar PD 2. Mereka bahkan mengira serangan pertahanan itu dilakukan tentara Jepang yang melawan kesepakatan international, dan membombardir habis-habisan Kedung Cowek. Menurut sumber-sumber Inggris, Inggris sendiri bahkan tak pernah memperhitungkan Indonesia memiliki unit pasukan yang mampu mengoperasikan mesin perang PD 2 tersebut.
Siapakah orang-orang lokal yang mengejutkan dunia itu?
TANGGUNG JAWAB, KEHORMATAN, DAN PENGORBANAN
“Pasukan yang bertugas di benteng ini adalah para mantan pasukan Gyugun (suatu korps bentukan Jepang yang terdiri dari kelompok berpendidikan militer) yang diterjunkan dalam perang Pasifik. Mereka sudah merasakan babak-belur menghadapi Amerika di Morotai. Setelah kalah perang mereka pulang ke tanah air. Di surabaya mereka bertemu dengan Kolonel dr. Williater Hutagalung, yang memberitahu mereka situasi. Kita sedang berperang! Sekarang pilihan ada pada saudara-saudara, apakah memilih pulang atau tetap di sini mempertahankan kedaulatan negara. Apakah memilih kembali pada keluarga dan tenteram, atau tetap bertahan di sini dengan konsekuensi yang sudah jelas.”
Sekitar 400-500 orang ini sebagian besar dari Tapanuli, Deli dan Aceh. “Karena sebagian besar mereka dari Sumatra, maka pasukan yang mereka bentuk diberi nama Sriwijaya.”
1372052623791288946
RESTORASI. Menceritakan kisah sejarah dengan didukung kostum dan gambar. Tanpa usaha ini, benteng-benteng yang tidak nyaman ini tak terlihat nilai historisnya. (Foto: doc pribadi)
Mereka yang sudah mengecap PD 2, dimana pertahanan mereka dibombardir dan digempur pesawat dan kapal Amerika, akhirnya memutuskan tetap bertahan di Surabaya, menggabungkan diri mempertahankan jengkal tanah Surabaya. Pengetahuan mereka dalam mengoperasikan senjata berat seperti meriam digunakan untuk mendukung perjuangan Arek-Arek Suroboyo.
1372052799206401422
MASIH LIAR. Lokasi situs Benteng Kedung Cowek merupakan lokasi yang masih liar. Foto-foto ini menunjukkan suasana di sekitar benteng. Meskipun usaha-usaha pembersihan dilakukan secara berkala, namun tak pernah berhasil karena daya tumbuh semak yang sangat cepat. (Foto: doc pribadi)
Suatu keputusan yang sangat mengharukan. Karena sekitar 200 orang dari mereka akhirnya gugur dan tak sempat dievakuasi. Kiprah mereka yang mencengangkan telah ikut meramaikan deru perang 10 Nopember yang masyur dimana-mana. Tak hanya di Kedung Cowek, unit penangkis serangan udara Sriwijaya ini (pasukan ini dipecah dua kelompok, yang mampu mengoperasikan meriam ditempatkan di Kedung Cowek, sedangkan yang mampu menggunakan senjata penangkis serangan udara disebar menurut lokasi meriam penangkis serangan udara) telah merontokkan pesawat-pesawat tempur Inggris di beberapa titik di Surabaya.
Nearby cities:
Coordinates: 7°12'42"S 112°46'51"E
- bekas lapangan sepak bola kedung cowek (tempat anak anak smu 19 dulu main bola setelah pulang sekolah tahun 1999 - 2000)) 0.3 km
- OERR BULAK KENJERAN 0.7 km
- KM 1 - 3 JLLT 0.7 km
- GANG SEKEDHENK'S 0.8 km
- tapak 1 1 km
- Fira Truss n Roof - Galvalume 1.5 km
- Calon RB 1.7 km
- Pantai Watu Watu 1.7 km
- Wonosari Baru Perumahan TNI-AL 2 1.9 km
- Bulak Banteng Bandar Rejo 2.2 km
- Pesisir Kenjeran 0.8 km
- The Hampton 2.5 km
- Ruas Surabaya Utara - OERR Surabaya 2.7 km
- Suramadu Bridge (5.4km) 3.1 km
- East Port Perak 3.1 km
- Surabaya Waterfront Island 4 3.9 km
- Kawasan Surabaya Utara (WILAYAH HUKUM POLRES PELABUHAN TANJUNG PERAK) 5.2 km
- Madura Strait 5.7 km
- Surabaya Central Business District (SCBD) & Central Government City 7.3 km
- Madura Island 70 km
Comments