Kwayuhan

Indonesia / Yogyakarta / Jetis / Sendangmulyo, Minggir, Sleman, DIY
 village, place with historical importance, hamlet, invisible
 Upload a photo

Dusun Kwayuhan
Sendangmulyo, Minggir, Sleman, Yogyakarta

****************************************************
Kampung Polisi, Luk 13 dan Keistimewaan DIY

Dusun Kwayuhan terletak 1,5 kilometer dari Kali Progo, terletak di tengah areal persawahan dan masuk wilayah administrasi Kecamatan Minggir. Ada beberapa hal unik di dusun ini, jumlah belokan alias tikungan berjumlah 13 dan utamanya sejarah soal keistimewaan DIY dan sepenggal sejarah Polri.
Sejarah keistimewaan itu bermula saat masyarakat, tentara dan polisi bahu membahu memperjuangkan kemerdekaan saat agresi Belanda ke II pada 1949. Saat itu pemimpin Republik Indonesia, Soekarno mengendalikan negara dari Jogja.
Saat keadaan genting di tengah agresi terjadi kesibukan di wilayah Sleman barat. Dusun Kwayuhan, Desa Sendangmulyo, Kecamatan Minggir, bersiap membangun kekuatan melumpuhkan Belanda yang berniat merebut Jogja.
Kini setelah 62 tahun berlalu, jejak heroik kerja sama warga dan Polri di era 1948-1949 masih bisa ditemui hampir di semua rumah RT 03 Kwayuhan.
Jejak sejarah itu bisa ditemui di rumah Kepala Desa Damanuri yang kala itu digunakan markas komando. Layaknya markas Polri, rumah itu juga dilengkapi pos jaga – yang kini digunakan sebagai poskamling.
Tak jauh dari lokasi itu, ada rumah Hadi Wiyono yang dulu dijadikan dapur umum dan rumah milik Jiwo Suharsono sebagai kantor administrasi.
“Hampir semua rumah warga RT 03 Kwayuhan ini ketempatan polisi yang jumlahnya 300 orang waktu itu. Polisi Jogja dibom Belanda yang bermarkas di Cebongan kemudian lari ke barat ke Kwayuhan ini,” kata Kepala Dukuh Kwayuhan, Mujiyono ketika ditemui Harian Jogja belum lama ini.
Meski ia baru lahir saat terjadi Agresi Militer Belanda ke II, Mujiyono bisa menceritakan sejarah bagi siapa saja yang bertanya karena cerita serupa diceritakan turun temurun. Pemegang kendali Polri kala itu Jenderal Sukamto.
Kekuatan di Kwayuhan saat itu hanya 300 polisi dan tak cukup melawan Belanda. Oleh karena itu semua laki-laki di daerah tersebut ditawari menjadi polisi. Ujiannya pun sangat mudah, dengan cara melompati dua dingklik (bangku) .
Jika bisa melakukan rintangan itu sudah menjadi Polisi dengan mudahnya, tetapi harus siap mati melawan penjajah untuk menyelamatkan Jogja.
“Setiap rumah ada yang jadi polisi, bahkan satu rumah ada yang empat orang. Tapi sekarang seleksi menjadi polisi sangat ketat, beda dengan dahulu yang cuma lompat dua dingklik saja sudah jadi polisi,” jelasnya.
Masyarakat Kwayuhan kini menyimpan kenangan sejarah 1949 melalui monumen Wiranara yang berarti orang berani. Selain itu sekolah polisi yang didirikan R. Moh. Zein Suryopranoto dan sejumlah fasilitas lainnya tetap dilestarikan.
Sisa-sisa bangunan itu mengisahkan ada kerja sama warga-aparat dan nasionalisme pejuang mewujudkan kemerdekaan.
Uniknya luk 13
Keunikan lain di ‘kampung polisi’ itu yakni angka 13. Bila pengunjung ingin menuju ke rumah eks-markas Polri saat Agresi Belanda II maka harus belok kanan dan kiri sebanyak 12 kali. Bila 13 Kali, dipastikan keluar dari dusun tersebut.
“Jika belum sampai dua belas belokan berarti itu belum sampai, dihitung sejak belokan pertama,” kata pria di kawasan Monumen Wiranara, Kwayuhan, Sedangmulyo, Minggir saat memberi arahan Harian Jogja.
Benar saja setelah melewati 12 belokan ditemukan situs markas itu. Jika satu belokan lagi, genap 13 belokan akan menuju dusun Sadon Cerbonan alias sudah keluar dari Kwayuhan. “Memang d isini belokannya tiga belas, mulai masuk dusun sampai keluar,” kata warga yang bertempat tinggal di Situs Markas, Edy Suhandono.
Ia pun sampai sekarang tidak tahu asal-usul belokan 13 ini karena sejak turun-temurun sudah begitu. Saat dijadikan markas Polisi pun belokannya sudah 13. Ia mengaku tidak ada kesialan selama ini, tetapi ada hal aneh yang selalu rutin terjadi.
Bahwa setiap kali pilihan dukuh selisihnya selalu angka 13. Kebetulan padukuhan Kwayuhan tersebut juga berada di Kring 13 Desa Sendangmulyo.
Kepala Dukuh Kwayuhan Mulyadi, mengatakan model jalan dulu memang spiral yang berkelak kelok. Sehingga rumah penduduk di dusun tersebut bisa ditandai dengan kelokan. Warga masyarakatnya berprofesi sebagai petani pengusaha, bahkan masih banyak yang menjadi anggota polisi.
Bagikan · sekitar sejam yang lalu
Nearby cities:
Coordinates:   7°44'14"S   110°14'30"E
This article was last modified 7 years ago