Bukit Batubasa
Indonesia /
Sumatera Barat /
Padang Panjang /
World
/ Indonesia
/ Sumatera Barat
/ Padang Panjang
World / Indonesia / Sumatera Barat
Bukit Batu Basi Atau Bukit Tubasi Ndak Jadi Hilang...
Icon Tigo Koto Batal Sirna Bukik Batu Basi yang terletak di perbatasan Galogandang, Turawan dan Padang Luar sudah menjadi ikon (lambang atau tanda) bagi Nagari Tigo Koto. Jika urang awak menyebut Bukik Batu Basi, ada getaran rasanya bagi warga perantauan nagari Tigo Kot...o. Teringat kampung, ingin menghirup udara segar serta memandang sawah menghijau dengan latar belakang barisan bukit yang puncaknya runcing menjulang. Bukit yang dulu gersang kini sudah rimbun oleh tanaman pinus menyebar jarang di lereng sampai ke puncaknya. Bukit Batu Basi selain karena bentuknya yang khas dan indah, juga karena sudah lama bukit ini jadi buah bibir orang. Konon sejak zaman Belanda, bukit ini ramai diperbincangkan karena kandungannya besinya tinggi. Tidak saja besi, bahkan urang tuo-tuo menyebut di dalam bukit ini terdapat emas sagadang kudo. Ada juga kabar angin yang menyebutkan kandungan uraniumnya pun tinggi. Kalau memang ya, betapa kaya kandungan Bukit Batu Basi kita ini. Awal Mei 2006 lalu, perbincangan tentang masalah Bukit Batu Basi pun kembali menyeruak, menyusul datangnya pihak swasta ke Nagari III Koto untuk melakukan penambangan. Adalah PT. Citra Tambang Lestari dengan menggaet investor dari Australia yaitu BHP Billiton, telah mengadakan sosialisasi untuk melakukan penambangan Bukit Batu Basi di Galogandang (10/5) lalu. Sosialisasi yang bertempat di balai-balai adat dan mengundang segenap lapisan masyarakat yang berada di kampung halaman. Dalam sosialisasi tersebut pihak P.T Citra Tambang Lestari membagi-bagikan nasi bungkus dan pada akhirnya acara mayarakat yang hadir diberikan uang saku masing-masing Rp10 ribu. Dalam acara yang ramai dihadiri masyarakat pihak investor mengatakan menurut data satelit yang dibelinya di Singapura hasil tambang di Bukit Batu Basi terdiri dari bermacam-bahan galian diantaranya biji besi, tembaga, mangan, ball clain, felpor, tras, granit, bouksit, pasir kuarsa dan koalin tapi ada dua unsur lain yang tidak terbaca oleh satelit. Ditambahkan, seandainya Bukit Batu Basi jadi ditambang pihak invertor pada tahap awal akan menyerap tenaga kerja sebanyak 1800 orang mulai dari tamatan SLTP sampai dengan sarjana, dan menggunakan tenaga ahli sebanyak 26 orang sedangkan 12 orang tenaga asing. Pihak perusahaan juga akan memberikan uang kompensasi dari profitnya untuk: 1. Masyarakat sekitar akan diberikan uang antara Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu/KK/ bulan. 2. Infrastruktur daerah 50% 3. Seluruh pemilik lahan yang terkena tambang mempunyai saham sebanyak 11% 4. Pemerintah Daerah 22%. Lebih lanjut, lahan tambang ini direncanakan mencakup di enam nagari yang ada di sekeliling bukit di antaranya mulai dari III Koto, Batubasa, Batutaba, Tanjuang Barulak, dan Pitalah. Sedangkan bahan tambang yang paling banyak, berada di Bukit Batu Basi daerah III Koto sebanyak 59,3% dan diperkirakannya sebanyak 32.417.100 ton. Eksploitasi yang akan dilakukan menggunakan teknologi laser yang akan memakan waktu selama 13 sampai dengan 15 tahun. Dalam sosialisasi tersebut PT CTL juga mengatakan dampak dari tambang antara lain: Bukit Batu Basi/dataran tinggi akan berkurang dan sama rata dengan tanah.
1. Terjadinya pencemaran air di wilayah sekitar tambang.
2. Terjadinya polusi udara.
3. Debu yang banyak.
4. Terjadinya cekungan tanah karena alat berat.
5. Terjadinya perubahan kultur/ budaya dan adat masyarakat setempat dan di derah Tanah Datar pada umumnya.
Masyarakat III Koto saat ini masih pro dan kontra masalah penambangan ini. Ada beberapa akibat buruk yang belum disadari betul akibatnya oleh masyarakat. Yang pertama adalah kesehatan. Terjadinya pencemaran air dan udara jelas akan berdampak pada kesehatan masyarakat, mulai dari bayi sampai yang sudah lanjut usia (lansia). Jika dibanding dengan biaya perobatan, ganti rugi sebesar Rp 300 ribu/KK/Bulan bisa dipastikan tidak mencukupi. Belum lagi kerugian karena orang yang sakit tidak bisa bekerja. Selain itu ada juga immateriil (tidak berbentuk materi) seperti ketenangan, kenyamanan, sosial budaya. Selain berdampak pada kesehatan, debu logam juga berdampak pada kerusakan peralatan dan perumahan. Yang pasti, atap rumah yang terbuat seng akan cepat mengalami pengeroposan. Barang-barang logam lainnya yang kita miliki juga menjadi pendek usia pakainya. Untuk dampak jangka panjang, pertanian di wilayah sekitar pertambangan juga akan mengalami kerusakan, baik karena debu, maupun karena kekurangan air. Kita ketahui bahwa dari kaki Bukit Batu Basi keluar mata air tandau untuk pengairan sawah. Dari barisan bukit tersebut masih banyak lagi mata air yang berfungsi untuk mengairi sawah. Jika daerah perbukitan tersebut ditambang, sudah bisa dipastikan seluruh mata air akan kering, akibatnya sawah di sekitar perbukitan tersebut juga akan kering. Kalau Bukit Batu Basi dan sekitarnya ditambang selama 15 tahun, maka sawah sekitar bukit akan kering dan tandus tidak hanya 15 tahun, akan tetapi tandus selamanya. Inikah yang kita harapkan? Bukankah perbukitan kita masih bisa menghasilkan uang jika ditanami tanaman perkebunan seperti kakao? Kalau pinggang dan puncak Bukit Batu Basi tidak bisa ditanami karena tanahnya didominasi bebatuan, tetapi bukit tersebut sangat bernilai karena sebagai resapan air yang mengairi sawah sekitar dan juga sebagai asal sumber air tanah yang mengalir sampai ke sumur-sumur yang ada di nagari kita, dan juga tak kalah penting sebagai ikon atau maskotnya Nagari III Koto. Untunglah “Lumpur Lapindo” dan Bencana Alam lainnya muncul, sehingga rencana eksplorasi Bukit Batu Basi, tak terdengar lagi kini. Namun kita harus tetap waspada.....(pakiah basa / ilfa yusmadi galolove)
Icon Tigo Koto Batal Sirna Bukik Batu Basi yang terletak di perbatasan Galogandang, Turawan dan Padang Luar sudah menjadi ikon (lambang atau tanda) bagi Nagari Tigo Koto. Jika urang awak menyebut Bukik Batu Basi, ada getaran rasanya bagi warga perantauan nagari Tigo Kot...o. Teringat kampung, ingin menghirup udara segar serta memandang sawah menghijau dengan latar belakang barisan bukit yang puncaknya runcing menjulang. Bukit yang dulu gersang kini sudah rimbun oleh tanaman pinus menyebar jarang di lereng sampai ke puncaknya. Bukit Batu Basi selain karena bentuknya yang khas dan indah, juga karena sudah lama bukit ini jadi buah bibir orang. Konon sejak zaman Belanda, bukit ini ramai diperbincangkan karena kandungannya besinya tinggi. Tidak saja besi, bahkan urang tuo-tuo menyebut di dalam bukit ini terdapat emas sagadang kudo. Ada juga kabar angin yang menyebutkan kandungan uraniumnya pun tinggi. Kalau memang ya, betapa kaya kandungan Bukit Batu Basi kita ini. Awal Mei 2006 lalu, perbincangan tentang masalah Bukit Batu Basi pun kembali menyeruak, menyusul datangnya pihak swasta ke Nagari III Koto untuk melakukan penambangan. Adalah PT. Citra Tambang Lestari dengan menggaet investor dari Australia yaitu BHP Billiton, telah mengadakan sosialisasi untuk melakukan penambangan Bukit Batu Basi di Galogandang (10/5) lalu. Sosialisasi yang bertempat di balai-balai adat dan mengundang segenap lapisan masyarakat yang berada di kampung halaman. Dalam sosialisasi tersebut pihak P.T Citra Tambang Lestari membagi-bagikan nasi bungkus dan pada akhirnya acara mayarakat yang hadir diberikan uang saku masing-masing Rp10 ribu. Dalam acara yang ramai dihadiri masyarakat pihak investor mengatakan menurut data satelit yang dibelinya di Singapura hasil tambang di Bukit Batu Basi terdiri dari bermacam-bahan galian diantaranya biji besi, tembaga, mangan, ball clain, felpor, tras, granit, bouksit, pasir kuarsa dan koalin tapi ada dua unsur lain yang tidak terbaca oleh satelit. Ditambahkan, seandainya Bukit Batu Basi jadi ditambang pihak invertor pada tahap awal akan menyerap tenaga kerja sebanyak 1800 orang mulai dari tamatan SLTP sampai dengan sarjana, dan menggunakan tenaga ahli sebanyak 26 orang sedangkan 12 orang tenaga asing. Pihak perusahaan juga akan memberikan uang kompensasi dari profitnya untuk: 1. Masyarakat sekitar akan diberikan uang antara Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu/KK/ bulan. 2. Infrastruktur daerah 50% 3. Seluruh pemilik lahan yang terkena tambang mempunyai saham sebanyak 11% 4. Pemerintah Daerah 22%. Lebih lanjut, lahan tambang ini direncanakan mencakup di enam nagari yang ada di sekeliling bukit di antaranya mulai dari III Koto, Batubasa, Batutaba, Tanjuang Barulak, dan Pitalah. Sedangkan bahan tambang yang paling banyak, berada di Bukit Batu Basi daerah III Koto sebanyak 59,3% dan diperkirakannya sebanyak 32.417.100 ton. Eksploitasi yang akan dilakukan menggunakan teknologi laser yang akan memakan waktu selama 13 sampai dengan 15 tahun. Dalam sosialisasi tersebut PT CTL juga mengatakan dampak dari tambang antara lain: Bukit Batu Basi/dataran tinggi akan berkurang dan sama rata dengan tanah.
1. Terjadinya pencemaran air di wilayah sekitar tambang.
2. Terjadinya polusi udara.
3. Debu yang banyak.
4. Terjadinya cekungan tanah karena alat berat.
5. Terjadinya perubahan kultur/ budaya dan adat masyarakat setempat dan di derah Tanah Datar pada umumnya.
Masyarakat III Koto saat ini masih pro dan kontra masalah penambangan ini. Ada beberapa akibat buruk yang belum disadari betul akibatnya oleh masyarakat. Yang pertama adalah kesehatan. Terjadinya pencemaran air dan udara jelas akan berdampak pada kesehatan masyarakat, mulai dari bayi sampai yang sudah lanjut usia (lansia). Jika dibanding dengan biaya perobatan, ganti rugi sebesar Rp 300 ribu/KK/Bulan bisa dipastikan tidak mencukupi. Belum lagi kerugian karena orang yang sakit tidak bisa bekerja. Selain itu ada juga immateriil (tidak berbentuk materi) seperti ketenangan, kenyamanan, sosial budaya. Selain berdampak pada kesehatan, debu logam juga berdampak pada kerusakan peralatan dan perumahan. Yang pasti, atap rumah yang terbuat seng akan cepat mengalami pengeroposan. Barang-barang logam lainnya yang kita miliki juga menjadi pendek usia pakainya. Untuk dampak jangka panjang, pertanian di wilayah sekitar pertambangan juga akan mengalami kerusakan, baik karena debu, maupun karena kekurangan air. Kita ketahui bahwa dari kaki Bukit Batu Basi keluar mata air tandau untuk pengairan sawah. Dari barisan bukit tersebut masih banyak lagi mata air yang berfungsi untuk mengairi sawah. Jika daerah perbukitan tersebut ditambang, sudah bisa dipastikan seluruh mata air akan kering, akibatnya sawah di sekitar perbukitan tersebut juga akan kering. Kalau Bukit Batu Basi dan sekitarnya ditambang selama 15 tahun, maka sawah sekitar bukit akan kering dan tandus tidak hanya 15 tahun, akan tetapi tandus selamanya. Inikah yang kita harapkan? Bukankah perbukitan kita masih bisa menghasilkan uang jika ditanami tanaman perkebunan seperti kakao? Kalau pinggang dan puncak Bukit Batu Basi tidak bisa ditanami karena tanahnya didominasi bebatuan, tetapi bukit tersebut sangat bernilai karena sebagai resapan air yang mengairi sawah sekitar dan juga sebagai asal sumber air tanah yang mengalir sampai ke sumur-sumur yang ada di nagari kita, dan juga tak kalah penting sebagai ikon atau maskotnya Nagari III Koto. Untunglah “Lumpur Lapindo” dan Bencana Alam lainnya muncul, sehingga rencana eksplorasi Bukit Batu Basi, tak terdengar lagi kini. Namun kita harus tetap waspada.....(pakiah basa / ilfa yusmadi galolove)
Nearby cities:
Coordinates: -0°31'15"N 100°32'3"E
- Rumah Mak Wo Sadida 0.5 km
- PUSTU Pd. Luar III Koto 0.8 km
- kasiak guguak jambu , padang luar 0.9 km
- Bukit Tabasi 1.6 km
- tanjung barulak 5.2 km
- iko kampuang mande aden : KOTOBARU nan jauah di mato dakek di hati 6.5 km
- Sulayan City 7.5 km
- Desa Tabek Kampuang dhen 7.6 km
- Jambak Pitalah, kampuang nan den cinto 7.9 km
- Rencana Rel Batusangkar 8.3 km
- Masjid Tawakal 3.5 km
- SMPN 2 Batipuh 7.3 km
- SILABUAK - PARAMBAHAN - LIMAKAUM - TANAHDATAR 7.4 km
- MTsN 12 Tanah Datar 8.1 km
- Polsek Batipuh 8.3 km
- SDN 1 Kubu Kerambil 8.4 km
- Stasiun Kubukerambil 8.5 km
- SMPN 1 Batipuah 9 km
- SMKN 1 Batipuh 10 km
- Lembah Anai-Moh Hatta Nature Preserve 23 km